Minggu, 27 April 2014. Begitu keterangan yang muncul di atas postingan terakhirku di blog ini. Tanpa kusadari, blog ini sudah pakum lebih dari setahun lamanya. Setahun, rentang waktu yang tidak sebentar bagi manusia pada umumnya. Tapi tidak denganku, bagiku waktu setahun itu cepat sekali berlalu. Buktinya, aku merasa blog ini baru saja kubuat beberapa hari yang lalu.
Sempat kubaca beberapa postingan dalam blog ini. Setiap postingan tulisan yang kubaca, perlahan tapi pasti membawaku pada sebuah perasaan yang campur aduk. Kadang alis mataku mulai mengkerut ketika membaca kalimat-kalimat yang aneh. Tapi sesekali aku pun tertawa sambil geleng-geleng kepala atas lelucon dalam tulisanku sendiri. Tak lama kemudian aku pun membatin dalam hati ”Tulisan macam apa ini?”.
Dulu aku memang sempat tergila-gila dengan tulisan komedi. Bagiku, hebat sekali sebuah tulisan mampu membuat hati pembacanya tertawa riang gembira. Dan setiap kali membaca tulisan yang dapat membuat aku tertawa, saat itu juga aku langsung takjub dengan penulisnya. Mengapa demikian? Karena menulis komedi tidak semudah yang dibayangkan. Bukan tulisan yang sekedar ditulis secara asal-asalan. Tapi menulis komedi itu harus dilakukan dengan hati, agar mampu menyengkan hati pembacanya.
Tapi saat ini, kegemaranku dengan tulisan komedi bisa dikatakan semakin pudar. Bukan hanya karena aku tidak mengikuti update-an terbaru dari sosok penulis favorit (Radityadika), tetapi juga karena kiblatku menulis sudah mengarah pada tulisan-tulisan bergaya ilmiah. Sekarang ini aku lebih cenderung mengkonsumsi tulisan-tulisan ilmiah ala Prof. Komaruddin Hidayat, di mana tulisan-tulisannya selalu membuat aku kagum karena tulisannya yang renyah lagi mencerahkan.
Karena itu, postingan blog ini ke depan akan mengusung tema tulisan dengan gaya bercerita yang lebih serius. Sesuai dengan usia yang semakin dewasa, barangkali gaya bercerita dengan nuansa bercanda dan main-main agaknya mesti dikurangi. Kadang-kadang aku juga bosan dengan kebiasaanku yang gemar sekali bercanda. Sampai-sampai banyak teman tidak bisa membedakan mana omonganku yang serius dan mana omonganku yang becanda. Mangkanya tidak jarang, ketika aku berbicara mengenai hal serius banyak teman yang menanggapinya dengan sikap yang main-main dan tentu sebaliknya.
Mengalami hal yang demikian jelas tidaklah mengenakkan. Tapi dari sanalah akhirnya aku harus belajar bahwa usia harus menyesuaikan dengan tingkah laku. Mungkin waktu bercanda dan main-main ku sudah habis. Sepertinya saat ini aku harus serius memikirkan masa depanku untuk menjadi seperti apa. Hidup tanpa tujuan ternyata tidak menawarkan sebuah kehidupan yang menarik. Hidup kita terombang-ombang tanpa arah dan pegangan yang jelas. Dan itulah yang kualami selama ini.
Kalau boleh jujur, hal itu pun sebenarnya tidak terlalu masalah bagiku. Mau jadi gelendangan, mau jadi sampah masyarakat, mau kehidupanku miskin dan susah sekalipun aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Namun terkadang aku juga berpikir, jika demikianlah pola pikirku betapa sial orangtua mempunyai anak sepertiku seandainya kelak aku menjadi orang yang tidak berguna. Betapa merugi mereka membiayai hidupku sampai aku besar seperti ini dan di sekolahkan tinggi-tinggi jika hanya hidupku hanya menyusahkan mereka dan menjadi sampah masyarakat.
Dari situlah aku menjadi sadar akan tujuan hidupku ini. Ternyata aku masih punya keluarga yang harus kubahagiakan. Aku masih punya orang-orang yang menyayangiku dan harus kubuat mereka tersenyum ceria. Tanggung jawab itulah alasan yang membuat aku tetap semangat menjalani hidup ini dengan berbagai lika-liku kehidupannya. Sampai salah satu diantara mereka akan berkata ”Lihat dia (aku), kami bangga punya dia (aku) menjadi bagian dari hidup kami”. Itulah tujuan hidupku.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar