2 Bulan yang lalu abangnya abang kost ku datang ke kosan. Rencananya dia
mau belanja dan liburan keliling Medan. Sebenarnya selain untuk liburan dan
belanja, tujuannya ke sini adalah untuk menghabiskan uang, karena diakuinya selama
ini dia agak kesulitan dalam menghabiskan uang hasil kerjanya.
Sebut saja nama abang yang ku maksud itu, Wendy. Sebelum kedatangan bg
Wendy ini, jujur saja aku tidak suka pergi kemana-mana, paling hanya ke kampus,
kampus, dan kampus. Namun kedatangan bg Wendy merubah segalanya, dia membawa
pengaruh yang cukup besar dan signifikan dalam hidupku, sebab karnanyalah aku
menjadi pergi kemana-mana, salah satunya pergi ke kampus (lagi).
Disela-sela obrolan kami di malam minggu, bg Wendy mengajakku menjumpai
(katanya) temennya di daerah Tuasan. Dia bilang dia kangen sekali sama temennya
itu, sudah cukup lama semenjak negara api menyerang mereka tidak saling berjumpa.
Awalnya aku menolak ajakan bg Wendy, dipikiranku pasti sesampainya disana keadaan
akan sangat membosankan. Bayangkan, ketika kita berada diantara dua orang yang kenal
dekat dan sedang melampiaskan kekangenannya pula, apakah kalian yakin mereka
menganggap kita ada diantara mereka? TIDAK!! Mereka cuma menganggap kita
replika patung manusia penghias rumah. Yakinlah.
Mengapai aku mau menerima ajakannya? (begini ceritanya) sebenarnya obrolan
itu muncul ketika aku dan bg Wendy lagi makan di salah satu warung di jalan
Pimpinan. Aku mesan ayam goreng sambal bagian sayap dan bg Wendy mesan sambal
kikil. Ketika makan, sebenarnya aku agak selera dengan sambal kikilnya bg Wendy,
apalagi dia makannya sangat lahap sampai bercucuran keringat disekitar
wajahnya. Beberapa saat, imanku mulai goyah, haruskah aku mengganti ayam goreng
sambal bagian sayap ini dengan sambal kikil seperti pilihan bg Wendy, ataukah
melanjutkan makan dengan lauk yang sudah kupilih sebelumnya. Ganti atau tidak,
ganti atau tidak, begitulah kata dalam hati terus bersuara tiada henti, sampai
tanpa sadar, sedikit demi sedikit ayam goreng sambal bagian sayap itu habis
juga aku santap. Nah, jadi inti pada paragraf ini yang mau aku sampaikan adalah
dia yang membayar makan malam ketika itu, sehingga mau tidak mau aku menerima
ajakannya.
Singkat cerita, sampailah kami di depan rumah temennya bg Wendy, setelah
melewati gang-gang yang sempitnya luar biasa. Saking sempitnya, gang ini hanya
bisa dilalui satu sepeda motor saja, kalau ada dalam waktu yang bersamaan dua
sepeda motor ingin lewat, maka satu diantaranya harus mengalah dengan mundur
kebelakang. Jika tidak ada yang mau mengalah, sebenarnya bisa saja lewat
berpapasan, dengan catatan salah satu sepede motor harus diangkat melewati
sepeda motor yang ada didepannya, atau jika tidak kuat mengangkatnya bisa
dengan memasukkan salah satu sepeda motor kedalam selokan yang berada disisi
kiri jalan gang ini. Mau?
Tanpa menunggu lama, bg Wendy langsung mengetok pintu, mengucapkan salam,
dan sesekali memanggil nama temennya itu dari luar. “ Assalamualaikum,..
Wenda!!..Wenda!!!..” kata bg Wendy. Selang
beberapa menit, pintu rumah pun terbuka. Tampaklah sesosok wanita dengan
senyumannya yang lembut menjawab salam bg Wendy. “Walaikum salam,” kak Wenda
membuka pintu, dan berkata “siapa ya?”#Jleb.
Nama temennya bg Wendy, Wenda (samaran), aku memanggilnya kak Wenda karena
umurnya lebih tua dariku. Kak Wenda orangnya cantik, tubuhnya kecil imut,
rambutnya agak panjang, dan jalannya alhamdulillah masih napak ke lantai.
Perjumpaan bg Wendy dan kak Wendy pun penuh dengan adegan yang sangat dramatis
banget, dari sanalah aku akhirnya mengerti, kealayan dan kelebayan menyerang
kepada siapa saja, tidak pandang umur dan status sosial.
“iih dilupakan awak rupanya, ini Wendy loh...” sambung bg Wendy.
“Apaa.. Wendy.. Serius? Ahhrrrgg... Ya ampun, oh Tuhan, mimpi apa aku
semalam. Aku pikir siapa, aku agak pangling sama kamu”
“Kamu juga, sekarang tambah cantik aja” sambung bg Wendy.
Kira-kira seperti itulah, terlalu panjang dan akan menjijikan jika harus
ditulis lengkap.
Setelah panjang lebar berbicara kangen-kangenan, kami pun dipersilahkan
masuk ke dalam rumah. Rumahnya sangat bersih, lantainya mengkilap, mungkin kak
Wenda memakai pembersih lantai kayak yang di iklan TV itu saat mengepelnya, “Sekali
dorong langsung cling” pikirku. Mengetahui hal itu, bg Wendy menyempatkan diri
untuk berkaca.
Kak Wenda orangnya sangat pengertian, buktinya tanpa harus disuruh dia
pergi ke dapur untuk mengambil makanan yang tersedia dan membuatkan minuman.
Wanita seperti inilah yang sangat ideal dijadikan istri. Wanita yang mengerti
bagaimana caranya bersikap dan melayani tamu dengan baik. Bukan wanita yang
menutup pintu karena takut persediaan gulanya habis di rumah.
Sekembalinya kak Wenda dari dapur dengan membawa minuman dan makanan
ringan, pembicaraan bg Wendy dan kak Wenda pun berlanjut. Semakin lama pembicaraan
mereka bagiku semakin membosankan saja, namun raut wajah bosan itu tidak aku
perlihatkan, kututupi dengan sesekali melempar senyuman keterpaksaan. Sampai
pandangan mataku tertuju pada seorang wanita yang sedang keluar kamar menuju
dapur.
“Kak, di rumah ini kakak tinggal sama siapa?” kataku bertanya.
“Sama temen dan ada satu adik kosan” jawabnya
singkat.
“Owh gitu..”
Tiba-tiba bg Wendy menimpali perkataanku, “Wenda, pangillah adik kosannya
kemari untuk nemeni Mas Arif ini” katanya. Kak Wenda pun sepertinya menurut
saja apa kata bg Wendy, dipanggillah adik kosannya yang saat itu berada dalam
kamar. Beberapa panggilan ternyata tidak membuat adik kosan tersebut segera
keluar dari dalam kamar meskipun setiap panggilan selalu disautnya. Ntah apa
yang dilakukan dalam kamar aku pun tidak tau.
Karena terlalu lama menunggu, kak Wenda pun mendatangi kamar adik kosannya
itu, untuk memastikan apakah keadaan adik kosannya baik-baik aja. Tak lama
setelah itu, keluarlah dia (adik kosan) dari persembunyiannya selama ini. Ia
berjalan kearah kami dengan sangat anggun dan berhati-hati sekali. Ia berjalan
seolah-seolah sedang berada diatas catwalknya para model. Dan Sesampainya tepat
dihadapan kami, akupun segera menyambutnya. Aku berdiri dengan menyodorkan
tangan sambil berkata, “Namanya siapa dik?”
Dengan senyuman manisnya dia pun menjawab, “Lilis”.
***
Itulah awal kisah pertemuanku dengan Lilis (nama sebenarnya) dan akan
kuceritakan bagaimana kisah kelanjutannya pada catatan berikutnya. Itupun kalau
ingat. Semoga...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar