Sabtu, 26 April 2014

Oh.. Namanya Lilis (1)

2 Bulan yang lalu abangnya abang kost ku datang ke kosan. Rencananya dia mau belanja dan liburan keliling Medan. Sebenarnya selain untuk liburan dan belanja, tujuannya ke sini adalah untuk menghabiskan uang, karena diakuinya selama ini dia agak kesulitan dalam menghabiskan uang hasil kerjanya.

Sebut saja nama abang yang ku maksud itu, Wendy. Sebelum kedatangan bg Wendy ini, jujur saja aku tidak suka pergi kemana-mana, paling hanya ke kampus, kampus, dan kampus. Namun kedatangan bg Wendy merubah segalanya, dia membawa pengaruh yang cukup besar dan signifikan dalam hidupku, sebab karnanyalah aku menjadi pergi kemana-mana, salah satunya pergi ke kampus (lagi).

Disela-sela obrolan kami di malam minggu, bg Wendy mengajakku menjumpai (katanya) temennya di daerah Tuasan. Dia bilang dia kangen sekali sama temennya itu, sudah cukup lama semenjak negara api menyerang mereka tidak saling berjumpa. Awalnya aku menolak ajakan bg Wendy, dipikiranku pasti sesampainya disana keadaan akan sangat membosankan. Bayangkan, ketika kita berada diantara dua orang yang kenal dekat dan sedang melampiaskan kekangenannya pula, apakah kalian yakin mereka menganggap kita ada diantara mereka? TIDAK!! Mereka cuma menganggap kita replika patung manusia penghias rumah. Yakinlah.

Mengapai aku mau menerima ajakannya? (begini ceritanya) sebenarnya obrolan itu muncul ketika aku dan bg Wendy lagi makan di salah satu warung di jalan Pimpinan. Aku mesan ayam goreng sambal bagian sayap dan bg Wendy mesan sambal kikil. Ketika makan, sebenarnya aku agak selera dengan sambal kikilnya bg Wendy, apalagi dia makannya sangat lahap sampai bercucuran keringat disekitar wajahnya. Beberapa saat, imanku mulai goyah, haruskah aku mengganti ayam goreng sambal bagian sayap ini dengan sambal kikil seperti pilihan bg Wendy, ataukah melanjutkan makan dengan lauk yang sudah kupilih sebelumnya. Ganti atau tidak, ganti atau tidak, begitulah kata dalam hati terus bersuara tiada henti, sampai tanpa sadar, sedikit demi sedikit ayam goreng sambal bagian sayap itu habis juga aku santap. Nah, jadi inti pada paragraf ini yang mau aku sampaikan adalah dia yang membayar makan malam ketika itu, sehingga mau tidak mau aku menerima ajakannya. 

Singkat cerita, sampailah kami di depan rumah temennya bg Wendy, setelah melewati gang-gang yang sempitnya luar biasa. Saking sempitnya, gang ini hanya bisa dilalui satu sepeda motor saja, kalau ada dalam waktu yang bersamaan dua sepeda motor ingin lewat, maka satu diantaranya harus mengalah dengan mundur kebelakang. Jika tidak ada yang mau mengalah, sebenarnya bisa saja lewat berpapasan, dengan catatan salah satu sepede motor harus diangkat melewati sepeda motor yang ada didepannya, atau jika tidak kuat mengangkatnya bisa dengan memasukkan salah satu sepeda motor kedalam selokan yang berada disisi kiri jalan gang ini. Mau?

Tanpa menunggu lama, bg Wendy langsung mengetok pintu, mengucapkan salam, dan sesekali memanggil nama temennya itu dari luar. “ Assalamualaikum,.. Wenda!!..Wenda!!!..”  kata bg Wendy. Selang beberapa menit, pintu rumah pun terbuka. Tampaklah sesosok wanita dengan senyumannya yang lembut menjawab salam bg Wendy. “Walaikum salam,” kak Wenda membuka pintu, dan berkata “siapa ya?”#Jleb.

Nama temennya bg Wendy, Wenda (samaran), aku memanggilnya kak Wenda karena umurnya lebih tua dariku. Kak Wenda orangnya cantik, tubuhnya kecil imut, rambutnya agak panjang, dan jalannya alhamdulillah masih napak ke lantai. 

Perjumpaan bg Wendy dan kak Wendy pun penuh dengan adegan yang sangat dramatis banget, dari sanalah aku akhirnya mengerti, kealayan dan kelebayan menyerang kepada siapa saja, tidak pandang umur dan status sosial.
“iih dilupakan awak rupanya, ini Wendy loh...” sambung bg Wendy.
“Apaa.. Wendy.. Serius? Ahhrrrgg... Ya ampun, oh Tuhan, mimpi apa aku semalam. Aku pikir siapa, aku agak pangling sama kamu”
“Kamu juga, sekarang tambah cantik aja” sambung bg Wendy.
Kira-kira seperti itulah, terlalu panjang dan akan menjijikan jika harus ditulis lengkap.

Setelah panjang lebar berbicara kangen-kangenan, kami pun dipersilahkan masuk ke dalam rumah. Rumahnya sangat bersih, lantainya mengkilap, mungkin kak Wenda memakai pembersih lantai kayak yang di iklan TV itu saat mengepelnya, “Sekali dorong langsung cling” pikirku. Mengetahui hal itu, bg Wendy menyempatkan diri untuk berkaca.

Kak Wenda orangnya sangat pengertian, buktinya tanpa harus disuruh dia pergi ke dapur untuk mengambil makanan yang tersedia dan membuatkan minuman. Wanita seperti inilah yang sangat ideal dijadikan istri. Wanita yang mengerti bagaimana caranya bersikap dan melayani tamu dengan baik. Bukan wanita yang menutup pintu karena takut persediaan gulanya habis di rumah.

Sekembalinya kak Wenda dari dapur dengan membawa minuman dan makanan ringan, pembicaraan bg Wendy dan kak Wenda pun berlanjut. Semakin lama pembicaraan mereka bagiku semakin membosankan saja, namun raut wajah bosan itu tidak aku perlihatkan, kututupi dengan sesekali melempar senyuman keterpaksaan. Sampai pandangan mataku tertuju pada seorang wanita yang sedang keluar kamar menuju dapur.
“Kak, di rumah ini kakak tinggal sama siapa?” kataku bertanya.
“Sama temen dan ada satu adik kosan” jawabnya singkat.         
“Owh gitu..”

Tiba-tiba bg Wendy menimpali perkataanku, “Wenda, pangillah adik kosannya kemari untuk nemeni Mas Arif ini” katanya. Kak Wenda pun sepertinya menurut saja apa kata bg Wendy, dipanggillah adik kosannya yang saat itu berada dalam kamar. Beberapa panggilan ternyata tidak membuat adik kosan tersebut segera keluar dari dalam kamar meskipun setiap panggilan selalu disautnya. Ntah apa yang dilakukan dalam kamar aku pun tidak tau.

Karena terlalu lama menunggu, kak Wenda pun mendatangi kamar adik kosannya itu, untuk memastikan apakah keadaan adik kosannya baik-baik aja. Tak lama setelah itu, keluarlah dia (adik kosan) dari persembunyiannya selama ini. Ia berjalan kearah kami dengan sangat anggun dan berhati-hati sekali. Ia berjalan seolah-seolah sedang berada diatas catwalknya para model. Dan Sesampainya tepat dihadapan kami, akupun segera menyambutnya. Aku berdiri dengan menyodorkan tangan sambil berkata, “Namanya siapa dik?”
Dengan senyuman manisnya dia pun menjawab, “Lilis”.

***
Itulah awal kisah pertemuanku dengan Lilis (nama sebenarnya) dan akan kuceritakan bagaimana kisah kelanjutannya pada catatan berikutnya. Itupun kalau ingat. Semoga...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar