Sementara bg Wendy
mendadak heboh sendiri, ia seolah-olah ingin menyomblangi aku dengan si Lilis. Ia tiba-tiba memuji-ku di depan Lilis, padahal bg Wendy sendiri jumpa denganku
juga baru sebanyak 2 kali saja, tapi ketika itu rasa-rasanya ia begitu sangat
mengenalku, ia seperti menjadi orang yang paling mengetahui tentangku bahkan
melebihi dari Mama-ku sendiri, atau jangan-jangan aku memang terlahir dari
rahimnya. Ntahlah.
“Lis.. Si Arif ini orangnya blablabla, udah gitu dia suka blalabla, dia
juga rajin blabala, pokoknya kalau sama dia akan blablabla....” ucap bg Wendy
memujiku setinggi langit.
Mendengar penjelasan bg Wendy mengenai diriku, Kak Wenda dan Lilis kembali
tersenyum. Namun, tidak denganku yang selalu menyangkal setiap pujian dari bg
Wendy.
Bagiku pujian itu terlalu berlebihan, sebab hanya aku dan Tuhan yang tau
dan paling memahami tentang diriku sendiri. Mangkanya ketika bg Wendy memujiku
dengan berkata “Si Arif ini orangnya blablabla....” aku langsung menyangkal, “Gak..gak..
gak ada itu semua” walau dalam lubuk hati yang terdalam berkata “Terimah kasih
bg Wendy.., Ayo terus..terus lanjutkan..”.
Kedatangan Lilis membuat suasana obrolan malam itu menjadi lebih ramai. Setidaknya
masing-masing dari kami memiliki teman ngobrol berpasang-pasangan. Bg Wendy
dengan Kak Wenda, dan aku dengan Lilis. Berbeda dengan bg Wendy dan Kak Wenda
yang sebelumnya sudah sangat akrab, tentu dengan sendirinya akan banyak muncul
hal-hal yang ingin dijadikan bahan pembicaraan. Sedangkan aku dan Lilis baru
pertama kali jumpa, dan kami baru mengenal nama.
Bagaimanapun juga memulai obrolan dengan orang baru kadang suka bikin kita bingung,
aku sendiri kadang suka gak tau bahan obrolan apa yang enak untuk diomongin. Paling
seperti biasa diawal-awal kita tanya nama, umur, sekolah dimana, hobbynya apa, terus
agak mulai berkembang dari masalah hobby, kalau hobbynya memasak kita tanya
lagi, bisanya masak apa, udah berapa kali tangannya kecimprat minyak goreng
panas, dan lain-lain.
Bukannya apa, karena memang paling susah dan ngeselin kalau ngobrol sama
orang yang gak nyambung. Kita ngomong tentang masalah listrik yang seringnya
mati lampu, eh dianya cuma nangepin dengan ngomong “Haaa.. APA... haa APA...
Kekmana-kekmana...HAAA KOK BISA..!!!” setibanya ngomong bener, larinya bahas tentang
iklan toya-toya, kan sama sekali tidak nyambung itu.
Itulang kadang, dalam hidup ini untuk mencari seorang pasangan, kecantikan
dan ketampanan janganlah dijadikan
sebuah prioritas, nanti kalau umur sudah lewat 50, bakal keriput keriput juga
kok. Maka dari itu yang harus kita utamakan adalah kenyamanan. Karena kalau
kita sudah sangat nyaman sama pasangan kita dengan sendirinya ketulusan itu
akan menyertai, sehingga secantik dan setampan apapun orang diluar sana, tetap bagi
kita pasangan kita itulah yang terbaik.
Kembali kecerita yang tadi. Bg Wendy dan Kak Wenda terdengar bernostalgia, membicarakan
saat-saat dulu ketika mereka pergi jalan-jalan kesuatu tempat, gelak tawa
mewarnai pembicaraan mereka yang tampak mengasyikkan. Aku sendiri yang berada
di samping bg Wendy mulai merasa tidak nyaman, karena sudah 15 menitan aku dan
lilis hanya terdiam.
Sepertinya lilis merupakan tipe wanita yang tidak banyak
omong. Dia tidak akan bicara kecuali aku yang memulainya. Akupun berpikir,
kalau begini jadinya, harusnya dari rumah aku tulis daftar pertanyaan layaknya
para wartawan yang sedang mewawancari narasumber, dengan bermodalkan rumus 5 W
+ 1 H yang diajarkan guru B. Indonesia ketika masa SMA dulu.
W 1 = What (Apa). Apakah kamu yang bernama Lilis? | Benar.
W 2 = Who (Siapa). Siapa kamu sebenarnya? | kan udah dibilang tadi, Lilis.
W 2 = Where (Dimana). Dimana keberadaan kamu saat terjadi kasus Pembunuhan
itu? | Kamar Mandi.
W 4 = When (Kapan). Kapan kamu berada di Kamar Mandi? | Saat terjadi kasus
pembunuhan itu.
W 5 = Why (Mengapa). Mengapa kamu ada disana? | Biasalah, lagi buang.
H = How (Bagaimana). Bagaimana rasanya setelah kamu selesai membuang? |
Lumayan agak lega jadinya.
Herannya, Bg Wendy dan Kak Wenda yang sejak daritadi melihat kami
berdiam-diaman, bukannya membantu mencairkan suasana justru mereka meninggalkan
kami berdua dengan berpindah dan duduk di kursi depan rumah. Suasana tambah
hening, hening sekali, sepertinya si Lilis mulai heran dengan sikapku yang
diawal bertemu sok akrab dengan bertanya nama, tapi kesininya kok malah diam.
Akhirnya setelah meminum segelas teh hangat yang dibuat kak Wenda, aku pun
mulai mengajaknya bicara. Gak perduli, penting atau enggak pertanyaannya yang
ku ajukan, asalkan mulut si lilis sudah berkomat-kamit amanlah terasa. Tanpa
sengaja aku melihat bg Wendy yang ternyata memperhatikan kami dari luar bermain
mata denganku. Aku tidak begitu mengerti kode apa yang ingin disampaikan, atau
mungkin dia hanya sedang kelilipan saja. Tapi yang pasti, pada titik ini
seperti ada pencerahan dalam suasana malam itu, apalagi saat aku memperhatikan dengan
seksama kata demi kata yang diucapkan Lilis. Yah, seiringnya waktu berjalan
suasana yang membeku itu mulai mencair juga.
***
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar