Sabtu, 26 April 2014

Oh.. Namanya Lilis (2)

Meskipun lilis menjawab pertanyaanku namun sodoran tangan yang kuhaturkan tidak dibalas olehnya. Ia merapatkan kedua telapak tangannya pertanda penyampaian pesan mohon maaf (bukan muhrim) kira-kira seperti itu. 

Sementara bg Wendy mendadak heboh sendiri, ia seolah-olah ingin menyomblangi aku dengan si Lilis. Ia tiba-tiba memuji-ku di depan Lilis, padahal bg Wendy sendiri jumpa denganku juga baru sebanyak 2 kali saja, tapi ketika itu rasa-rasanya ia begitu sangat mengenalku, ia seperti menjadi orang yang paling mengetahui tentangku bahkan melebihi dari Mama-ku sendiri, atau jangan-jangan aku memang terlahir dari rahimnya. Ntahlah.

“Lis.. Si Arif ini orangnya blablabla, udah gitu dia suka blalabla, dia juga rajin blabala, pokoknya kalau sama dia akan blablabla....” ucap bg Wendy memujiku setinggi langit.
Mendengar penjelasan bg Wendy mengenai diriku, Kak Wenda dan Lilis kembali tersenyum. Namun, tidak denganku yang selalu menyangkal setiap pujian dari bg Wendy.


Bagiku pujian itu terlalu berlebihan, sebab hanya aku dan Tuhan yang tau dan paling memahami tentang diriku sendiri. Mangkanya ketika bg Wendy memujiku dengan berkata “Si Arif ini orangnya blablabla....” aku langsung menyangkal, “Gak..gak.. gak ada itu semua” walau dalam lubuk hati yang terdalam berkata “Terimah kasih bg Wendy.., Ayo terus..terus lanjutkan..”.

Kedatangan Lilis membuat suasana obrolan malam itu menjadi lebih ramai. Setidaknya masing-masing dari kami memiliki teman ngobrol berpasang-pasangan. Bg Wendy dengan Kak Wenda, dan aku dengan Lilis. Berbeda dengan bg Wendy dan Kak Wenda yang sebelumnya sudah sangat akrab, tentu dengan sendirinya akan banyak muncul hal-hal yang ingin dijadikan bahan pembicaraan. Sedangkan aku dan Lilis baru pertama kali jumpa, dan kami baru mengenal nama.

Bagaimanapun juga memulai obrolan dengan orang baru kadang suka bikin kita bingung, aku sendiri kadang suka gak tau bahan obrolan apa yang enak untuk diomongin. Paling seperti biasa diawal-awal kita tanya nama, umur, sekolah dimana, hobbynya apa, terus agak mulai berkembang dari masalah hobby, kalau hobbynya memasak kita tanya lagi, bisanya masak apa, udah berapa kali tangannya kecimprat minyak goreng panas, dan lain-lain.

Bukannya apa, karena memang paling susah dan ngeselin kalau ngobrol sama orang yang gak nyambung. Kita ngomong tentang masalah listrik yang seringnya mati lampu, eh dianya cuma nangepin dengan ngomong “Haaa.. APA... haa APA... Kekmana-kekmana...HAAA KOK BISA..!!!” setibanya ngomong bener, larinya bahas tentang iklan toya-toya, kan sama sekali tidak nyambung itu.

Itulang kadang, dalam hidup ini untuk mencari seorang pasangan, kecantikan dan ketampanan janganlah dijadikan sebuah prioritas, nanti kalau umur sudah lewat 50, bakal keriput keriput juga kok. Maka dari itu yang harus kita utamakan adalah kenyamanan. Karena kalau kita sudah sangat nyaman sama pasangan kita dengan sendirinya ketulusan itu akan menyertai, sehingga secantik dan setampan apapun orang diluar sana, tetap bagi kita pasangan kita itulah yang terbaik.

Kembali kecerita yang tadi. Bg Wendy dan Kak Wenda terdengar bernostalgia, membicarakan saat-saat dulu ketika mereka pergi jalan-jalan kesuatu tempat, gelak tawa mewarnai pembicaraan mereka yang tampak mengasyikkan. Aku sendiri yang berada di samping bg Wendy mulai merasa tidak nyaman, karena sudah 15 menitan aku dan lilis hanya terdiam.

Sepertinya lilis merupakan tipe wanita yang tidak banyak omong. Dia tidak akan bicara kecuali aku yang memulainya. Akupun berpikir, kalau begini jadinya, harusnya dari rumah aku tulis daftar pertanyaan layaknya para wartawan yang sedang mewawancari narasumber, dengan bermodalkan rumus 5 W + 1 H yang diajarkan guru B. Indonesia ketika masa SMA dulu.

W 1 = What (Apa). Apakah kamu yang bernama Lilis? | Benar.
W 2 = Who (Siapa). Siapa kamu sebenarnya? | kan udah dibilang tadi, Lilis.
W 2 = Where (Dimana). Dimana keberadaan kamu saat terjadi kasus Pembunuhan itu? | Kamar Mandi.
W 4 = When (Kapan). Kapan kamu berada di Kamar Mandi? | Saat terjadi kasus pembunuhan itu.
W 5 = Why (Mengapa). Mengapa kamu ada disana? | Biasalah, lagi buang.
H = How (Bagaimana). Bagaimana rasanya setelah kamu selesai membuang? | Lumayan agak lega jadinya.

Herannya, Bg Wendy dan Kak Wenda yang sejak daritadi melihat kami berdiam-diaman, bukannya membantu mencairkan suasana justru mereka meninggalkan kami berdua dengan berpindah dan duduk di kursi depan rumah. Suasana tambah hening, hening sekali, sepertinya si Lilis mulai heran dengan sikapku yang diawal bertemu sok akrab dengan bertanya nama, tapi kesininya kok malah diam.

Akhirnya setelah meminum segelas teh hangat yang dibuat kak Wenda, aku pun mulai mengajaknya bicara. Gak perduli, penting atau enggak pertanyaannya yang ku ajukan, asalkan mulut si lilis sudah berkomat-kamit amanlah terasa. Tanpa sengaja aku melihat bg Wendy yang ternyata memperhatikan kami dari luar bermain mata denganku. Aku tidak begitu mengerti kode apa yang ingin disampaikan, atau mungkin dia hanya sedang kelilipan saja. Tapi yang pasti, pada titik ini seperti ada pencerahan dalam suasana malam itu, apalagi saat aku memperhatikan dengan seksama kata demi kata yang diucapkan Lilis. Yah, seiringnya waktu berjalan suasana yang membeku itu mulai mencair juga. 

***
(bersambung)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar